Reuromi dan Sangkarnya #TantanganDongengPeri

image

#TantanganDongengPeri

Suatu hari seorang lelaki bernama Lark mencengkram lengan sepupunya kuat, ingin agar memercayai penglihatan yang didapatkan sewaktu ia terlelap. Lark memang punya kelebihan, ia mampu membaca hal-hal supernatural. Dan seminggu lalu, ia bermimpi menemukan dunia lain di atas bukit, dekat rumah baru mereka. Ada seorang gadis jelita muncul memanggil namanya.

***

Malam itu, gumpalan awan hitam mendominasi langit, tak ada hamparan bintang. Lark bersabar ketika sepupunya memaksa ia untuk pulang.

“Tidak ada apapun disini. Kau lihat!” jengkel Janus. Lark meminta waktu tambahan satu menit lagi. Tak lama kemudian terasa tanah disekeliling mereka bergetar, terbelah menjadi beberapa bagian yang kian melebar. Sangat cepat, keduanya tertelan masuk lewat celah yang berbeda namun berakhir di tempat yang sama.

Beberapa pohon besar dengan dedaunan rimbun, beruas-ruas melahirkan puluhan bunga matahari di ujung rantingnya. Aneh. Langit yang mereka lihat, bukan lagi malam kelam. Melainkan jingga, serupa senja di sore hari. Yang mereka injak, bukan lagi tanah basah atau rerumputan, melainkan pasir putih bercampur kerikil kecil.

Lark mengernyit. Aroma aneh menusuk hidungnya. Mereka berjalan tanpa arah, hanya berbekal aroma yang terendus itu ditemukanlah sebuah gua. Mereka memutuskan untuk memasukinya sebab penasaran akan sumber aroma yang semakin tebal. Lark sempat ragu, tempat itu siapa tahu menyimpan banyak bahaya yang siap meniup nyawa mereka sekejap.

“Aku rasa di sini aman Lark, jangan jadi penakut! Barangkali kita dapat emas berkarung-karung seperti bulan lalu.” ucap Janus meyakinkan. Baru selangkah kaki mereka menapaki Gua, kabut berwarna kuning keemasan menyeruak, menghalangi pandangan. Keduanya tersedot masuk ke dalam gua.

“Kalian siapa?” seorang gadis bergaun ungu muncul. Ada yang tak biasa darinya, yaitu tanduk di kepala. Bukan bando buatan seperti yang ada di toko aksesoris, melainkan asli tanduk rusa yang berkilauan. Membuat mata Lark dan Janus silau.

“Itu emas.” bisik Janus pada Lark.

“Y-ya.” Lark terbata, ia terpana bukan sebab tanduk emas itu. Tetapi lebih karena paras si gadis. Kali pertama ia bertemu dengan gadis secantik ini.

“Kalian siapa?” gadis itu bertanya lagi. Janus mendehem, lalu menceritakan asal mula mereka bisa sampai ke tempat itu, sementara Lark mengangguki semua ucapan Janus. Gadis itu kemudian memperkenalkan diri. Reuromi namanya, ia salah satu peri penunggu Stanhorn yang merupakan hutan rahasia yang hanya bisa dilalui oleh manusia terpilih. Tidak sembarang orang bisa mengembarai kawasan itu. Janus dan Lark-lah yang terpilih untuk di panggil berkunjung di akhir tahun hitungan dunia peri.

***

Berhari-hari Janus membujuk Lark agar mau ikut menjalankan misinya. Membawa peri itu ke dunia manusia namun Lark menolak. Ia tak setuju tindakan Janus yang hanya ingin memanfaatkan tanduk peri itu untuk kepentingan pribadi. “Kita akan kaya, ayolah!” bujuk Janus tak hentinya. Lark menyangkal “Kita tidak akan kaya dengan cara licik, aku hanya ingin pulang.”

Itulah sanggahan terakhir Lark. Kaduanya sepakat berpisah, Janus dengan misinya dan Lark dengan pengharapannya untuk bisa pulang.

Lark putus asa, ia tak mampu menemukan lorong atau semacamnya sebagai perantara jalan keluar. Larkpun terpaksa bertahan hidup hanya dengan mengandalkan buah jeruk yang dipetik susah payah di ujung jembatan tua yang sewaktu-waktu bisa saja menjatuhkannya ke jurang.

Suatu pagi, Lark bertemu dengan Peri bertanduk rusa itu lagi di pinggir danau, tak jauh dari jembatan. Reuromi bercerita banyak hal, termasuk niatan Janus untuk mempersuntingnya. Reuromi mengajukan syarat untuk itu, mengumpulkan seratus Rusa dalam waktu tiga malam, dan tepat di bulan purnama Janus musti menggiring Rusa hidup tangkapannya ke mulut gua. Reuromi meminta Lark turut menyaksikan serah terima tersebut.

***

Malam ketiga tiba. Bulan keabuan bulat sempurna menggantung di atas langit jingga. Lark sedia berdiri di samping sang peri yang sibuk menguntun rambut keunguannya. Tanduknya makin berkilau. Lark tak hentinya memuja, mengagumi seluruh raga yang dimiliki peri. Dalam angannya peri itu memiliki sayap warna-warni dan besar mereka hanya seibu jari, seperti tumbelina. Tapi nyatanya, khayalan itu tak sama.

“Dia datang!” Reuromi berseru. Lark melotot ketika sadar tanduk itu berubah menjadi merah, semakin merah lalu berapi. Serupa besi yang dipanggang.

Kabut kuning keemasan merebak, Janus muncul disertai gerombolan Rusa di belakangnya. “Giring masuk rusa-rusa itu!” perintah Reuromi.

Janus menurut. Sesampainya di dalam gua, Reuromi menghitung rusa-rusa tersebut. Lark melihat ada yang tak beres di wajah Reuromi. Seringaian jahat yang samar, mata licik, kemarahan yang terpendam. Lark tiba-tiba menemukan itu. Ia ngeri sendiri ingat tanduk Reuromi yang berapi. Ya, semenjak kedatangan Janus, warna tanduk itu normal lagi.

“Sayang sekali Janus, rusamu kurang satu.” Reuromi mendesah, tangannya mengusap kepala salah satu rusa. Janus dengan angkuh menghitung ulang rusa-rusa itu, dan pada hitungan ke sembilan puluh sembilan, giginya gemeretak.

“Kau pasti bermain sihir, aku sudah menghitung sepanjang hari ini dan jumlahnya pas 100.”

“Tapi sekarang kurang satu. Pulanglah sesegera mungkin, kau bisa melewati gua ini untuk menemukan portalnya.” pesan terakhir Reuromi sebelum meninggalkan Janus yang murka karena gagal mendapatkan yang diingini. Janus mengeluarkan pisau lalu memenggal kepala rusa-rusa itu, pikirnya, tanduk rusa bisa dijual. Tapi Janus tergelak ketika tau keadaan rusa-rusa yang kembali utuh, badan serta kepala menyatu.

Lark menelan ludah mendapat tatapan Reuromi dari kejauhan, bulu kuduknya berdiri. Di alihkan tatapan matanya pada Janus. Lark menjerit, mendapati rusa-rusa itu ternyata mengerubungi Janus, menusuki dengan tanduk-tanduk mereka.

Lark gelisah, ia lari sekencang mungkin, ketika melihat cahaya terang ia mengembus napas lega. Lark yakin, itulah portal yang di maksud Reuromi. Lark semakin cepat memacu langkah kakinya. Ketika ia siap menembus portal, sebuah genggaman menahannya. Lark merasakan punggung tangannya panas. Rupanya Reuromi menghujamkan patahan tanduk miliknya ke telapak tangan mereka yang bertautan. Lark lemas seketika, ia takut mati naas seperti Janus.

“Aku ingin pulang, tolong.” raung Lark membuat Reuromi tersayat. Peri itu tersenyum lembut lalu menyuruh Lark untuk tetap tenang, ia berjanji tak akan menyakiti Lark lagi. Reuromi hanya ingin Lark hidup bersamanya, tetapi Lark menolak mentah-mentah tawaran itu. Ia tak percaya jika Reuromi tulus menginginkannya, Lark terlanjur takut. Tanpa sepengetahuan Reuromi Lark mengeluarkan pisau kemudian menebas lengannya sendiri sampai buntung agar bisa pergi. Lark berhasil kembali ke dunianya. Sedangkan Reuromi menangisi kepergian Lark.

Sepanjang hari air matanya menetesi patahan tanduk yang menancapi tangan miliknya dan Lark yang tertaut. Tanduk itu tumbuh beruas-ruas tiap tahun, sampai Reuromi terkurung olehnya. Reuromi setia dalam sangkar dengan sisa kenangan cintanya, -Tangan Lark yang digenggamnya-

image

End.

Advertisements

One thought on “Reuromi dan Sangkarnya #TantanganDongengPeri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s